Perusahaan Asal Singapura Fintech, Ingin Menggarap Bisnis Finance di Indonesia

Jakarta - Perusahaan finansial teknologi (fintech) asal Singapura, Brick, tengah mengajukan permohonan izin kepada Bank Indonesia (BI) untuk bisa menggarap bisnis dan layanan Open up Finance di Tanah Air.

CEO Block, Gavin Tan, menjelaskan bahwa solusi Open up Finance memungkinkan para pengguna atau konsumen dari berbagai perusahaan teknologi seperti e-commerce, perusahaan telekomunikasi maupun gerbang pembayaran (settlement portal) untuk dapat menghubungkan akun electronic mereka ke beragam aplikasi guna mengakses berbagai layanan keuangan dari financial institution, fintech dan perusahaan teknologi lain, dengan hanya melalui satu lini coding.

"Dalam keadaan pandemi saat ini, kami yakin bahwa akses kepada layanan keuangan yang merata dan adil bagi masyarakat Indonesia menjadi urgensi tersendiri. Karenanya Brick membangun dan menyediakan layanan infrastruktur API (Application Programs User interface) bagi perusahaan teknologi dan lembaga jasa keuangan untuk memenuhi kebutuhan konsumen mereka akan layanan jasa keuangan secara mudah, terjangkau dan aman bagi mitra kami, tanpa mereka perlu membangun API dari awal untuk banyak sekali kebutuhan yang berbeda untuk tujuan tersebut,"kata Gavin dalam keterangan resminya, Jumat (20/8/2021).

Dengan mengusung konsep 'Digital Economic situation API', layanan Financial API Brick dapat memfasilitasi perusahaan teknologi dan para lembaga jasa keuangan di Indonesia untuk berkolaborasi guna melayani konsumennya satu sama lain, khususnya untuk dapat mengakses layanan jasa keuangan yang sesuai pilihan dan kebutuhannya masing-masing.

"Kami ingin berkontribusi dalam mengakselerasi inklusi keuangan Indonesia yang bermanfaat bagi pemulihan ekonomi nasional baik saat ini maupun setelah era pandemi. Inovasi dan teknologi memainkan peranan penting untuk membantu masyarakat Indonesia mengatasi kesulitan finansial, khususnya di daerah-daerah terpencil, untuk dapat turut memperoleh akses kepada jasa keuangan dengan transparansi, keamanan dan manajemen resiko yang baik.

Block ingin mendukung kinerja perusahaan teknologi dan jasa keuangan dalam melayani masing-masing nasabah atau konsumennya dengan lebih efisien dan efektif melalui solusi Open up Finance kami,"jelasnya.

Di akhir tahun ini Brick berencana untuk segera mengajukan permohonan izin terkait Open Financing yang berada dalam pengaturan dan pengawasan Bank Indonesia dan karenanya saat ini Brick belum bekerjasama dengan para bank hingga diperolehnya izin tersebut untuk memastikan kepatuhan hukum dari layanan perusahaan.

Sebagai langkah awal, Brick menjadi Open Financing system pertama yang berhasil memperoleh sertifikasi ISO 27001 dan selanjutnya Brick berniat untuk berkonsultasi dengan BI untuk mempelajari perizinan yang tepat bagi kegiatan usahanya.

"Saat ini kami masih dalam tahap perkenalan dan sosialisasi layanan kami dengan beberapa financial institution dan perusahaan fintech financing untuk mempelajari dan memahami pain factors dan kebutuhan pokok masing-masing lembaga jasa keuangan perihal teknologi Open Finance dan Financial API di industri jasa keuangan khususnya terkait infrastruktur, perlindungan dan tata kelola information termasuk manajemen resiko.

Belum ada implementasi apapun terkait layanan Open Finance kami. Disamping itu, kami masih terus mengembangkan proses bisnis dan design bisnis kami untuk menyesuaikan dengan aturan, arahan dan kebijakan BI yang tentunya adalah yang terbaik bagi kami. Kami sepenuhnya percaya pada BI sebagai pemimpin kami di industri ini,"tambah Gavin.

Bersamaan dengan proses perizinan yang sedang dipersiapkan dan diprioritaskan, Block menyampaikan niatan dan komitmennya untuk mendukung dan membantu Financial institution Indonesia dalam penyusunan peraturan dan kebijakan yang nantinya dapat bermanfaat bagi sektor usaha Open up Money atau Open Financial, dan yang terpenting tentunya demi melindungi penduduk Indonesia terkait cybersecurity, data personal privacy dan protection dalam konteks kepatuhan terhadap penegakan kedaulatan information di Indonesia.

Gavin meyakini bahwa kolaborasi atau gotong royong sebagai DNA bangsa Indonesia adalah kunci kesuksesan untuk bersama membangun dan menjaga industri Open up Financing ini.

Bersama dengan pelaku usaha fintech Open Money existed dan Asosiasi Fintech Indonesia (Aftech), pihaknya berharap dapat diberi kesempatan untuk mendukung BI untuk secara kolaboratif mengembangkan industri Open Money dengan berdiskusi dan memberi masukan yang kiranya dapat menjadi pertimbangan guna membantu pemerintah dalam merumuskan peraturan dan kerangka hukum terkait Open up Financing yang ideal.

"Kami ingin turut terlibat aktif dalam proses benchmarking dan kajian hukum untuk membandingkan antara lain standar manajemen resiko, data governance, data protection dan cybersecurity dalam bidang usaha Open up Money di negara lain untuk menjadi pertimbangan BI.

Kapanpun kami siap membantu BI karena ini merupakan tanggung jawab kami sebagai pelaku usaha yang memprioritaskan kepatuhan hukum melebihi earnings dan pertumbuhan perusahaan,"ucap Gavin.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Satgas BLBI Memanggil Pemilik Bank Pacific Karena Memiliki Hutang Sebesar Rp 3,57 Triliun

Perekonomian Indonesia Belum Terdampak Omicron, Modal Asing Masih Masuk Rp 4,27 T ke Pasar Keuangan Indonesia

Beberapa Pemain Argentina yang Membuat Gagal Kalahkan Kolombia